Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Juni 29, 2011

Bekerja sajalah, jangan kuatirkan hari esok.

Kenapa saya kasih judul seperti itu ? terus terang saja saya sangat terharu dan terinspirasi dengan cerita dari mas Deddy Rahman di MosqueLife.com (http://www.mosquelife.com/content.note.web-app?cmd=view&id=949006). Pertama kali saya baca pas saya ada tugas di luar daerah yang sementara waktu berpisah dengan keluarga kecil saya (Istri dan Anak).

Berikut cerita dari mas Deddy tersebut semoga bisa membuat kita lebih mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". 


Dulu saya sering mendengar ataupun membaca ayat ini, tapi rasanya biasa-biasa saja. Sampai suatu ketika saya membaca potongan ayat ini disebuah mading di sebuah perusahaan properti milik mentor bisnis saya di TDA. Saya bergetar dan hampir menangis membacanya...

Mading tersebut berisi kiat-kiat yang ditulis mentor saya buat para sales diperusahaannya untuk mendapatkan "hotdeal", Ini istilah didunia properti untuk mendapatkan jenis properti yang memberi keuntungan cukup besar, kalau tidak salah. Setelah beliau menguraikan beberapa triks yang menurut saya cukup canggih, beliau juga membuat sebuah trik yang menarik: spiritual deal. Yang isinya adalah mengajak para salesnya untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhannya. Ditutup dengan mengutip ayat diatas. Saya bergetar, karena dalam sebulan terakhir ini sangat banyak yang membuat saya terombang-ambing. Dipecat dari perusahaan tanpa punya tabungan sama sekali. Produk yang diharapkan akan menopang hidup keluarga gagal diluncurkan bahkan harus dimusnahkan. Gagal mendapatkan project hanya karena selisih harga penawaran yang tipis. Rumah kontrakan yang ingin diambil alih oleh pemiliknya. Sulitnya bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Istri hamil dalam kondisi lemah, tidak bisa berbuat apa-apa, hanya terkapar ditempat tidurnya. Anak-anak yang selalu menagih dibelikan sepeda padahal aku masih mencari cara untuk menutupi biaya hidup mereka bulan depan. Dan masih banyak jutaan pemikiran 'gelap' lainnya dibenakku....Ayat itu mengingatkan aku bahwa aku masih punya Tuhan. Aku masih punya harapan. Bekerja sajalah, jangan kuatirkan hari esok. Istri dan anak2 amanah dari Tuhan, tidak mungkin Tuhan akan menyia-nyiakannya. Walaupun aku penuh dosa dan tak pantas menerima rahmat-Nya, maka istri dan anak2ku sangat layak untuk dirahmati oleh-Nya. Dan melalui kedua tangan inilah, Tuhan akan merahmati mereka. Amin.

Thx to mas deddy rahman
Readmore »» Bekerja sajalah, jangan kuatirkan hari esok.

Juni 12, 2011

Lirik Lagu Jangan Menyerah - D'Masiv

Kali ini saya akan berikan kepada sobat blogger lirik lagu "jangan menyerah" yang dinyanyikan oleh D'Masiv. Lagu ini sangat menginspirasi sekali, punya arti yang dalam. Saya menulis Lirik ini di blog saya setelah melihat tayangan Kick Andy dalam episode "Seribu Gitar Untuk Anak Indonesia". Semoga bermanfaat untuk sobat blogger dan kita semua, semoga bisa lebih bersyukur dengan apa yang telah kita terima selama ini :



Jangan Menyerah - D'Masiv
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi

kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi

reff1:
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi

repeat reff1
reff2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa

repeat reff1
repeat reff2


Readmore »» Lirik Lagu Jangan Menyerah - D'Masiv

Mei 25, 2011

Hadapi Saja

Seorang petani tua selama bertahun – tahun terpaksa membajak di sekeliling
sebuah batu besar di salah satu petak sawahnya. Batu itu terletak tepat di
tengah sawah pak Tani dan telah mematahkan beberapa mata bajak dan sebuah
cangkul sang petani.

Hari itu mata bajak pak tani kembali patah karena batu besar itu, karena
kesal dengan kejadian yang selalu berulang – ulang, maka pak tani
memutuskan untuk melakukan sesuatu .

” Aku harus menyingkirkan batu ini !”, lalu pak tani mengambil linggis dan
ketika ia menacapkan linggis itu ke dasar batu, ia terkejut karena ternyata
batu itu dengan mudah dapat dia angkat dan dia singkirkan.

Setelah selesai, pak tani duduk di tepi sawah miliknya sambil tersenyum,
dia teringat dengan semua kesulitan yang dia alami karena batu itu, dan
ternyata betapa mudahnya dia menyingkirkan batu itu . Sambil menghela
nafas pak tani bergumam sendiri ” mengapa hal itu tidak aku lakukan sejak
dulu “.

Saat manusia mengalami masalah dalam hidupnya, kadang yang kita pikirkan
adalah hal – hal yang jauh, sulit dan berbelit – belit.

Dan keengganan untuk langsung menghadapi masalah yang membuat masalah
tidak pernah selesai dan malah akan memancing masalah yang lain.

Padahal belum tentu masalah yang kita hadapin serumit yang kita bayangkan..
hal yang paling bijak kita lakukan adalah ” HADAPI” sambil kita ” BERSERAH”
dan
“MEMOHON” pada Tuhan untuk diberi kekuatan dan keberanian dalam
menjalaninya.


Sumber : http://www.pusatmotivasi.com

Readmore »» Hadapi Saja

Mei 24, 2011

Kisah Dua Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.


Sumber : http://www.motivasi-islami.com

Readmore »» Kisah Dua Tukang Sol

Mei 23, 2011

Berawal dari sebuah sapaan, ingat kan? senyum,salam, sapa

“Ga usah” jawaban bersahabat dari seorang kenek bis kota kampus itu terus terang menghadirkan tanda tanya dalam hatiku “kenapa dia tidak mau menerima ongkos itu ?”. Turun di terminal, sobatku yang talkactive itu memulai aksi yang baru, menghampiri gerobak pedagang air tebu.

Bapak itu buru-buru menyodorkan segelas air tebu es kepadanya, padahal dia belum meminta. Rupanya si bapak sudah melihat kedatangannya dari jauh. Bukan hari ini saja, seakan-akan setiap hari selalu ada orang baik untuknya.

Kemaren, ketika dia asyik berceloteh dengan teman-teman sewaktu jam istirahat, seorang ibu yang biasa mengusung dagangannya dari blok ke blok kelas kuliah memanggilnya. Dengan gembira dia kembali, “nih satu buat kamu” sambil membawa dua bungkus tahu isi, “dikasih si Ibu” lanjutnya sambil tersenyum kepada si Ibu yang juga tersenyum dengan bahagia.

Belum lagi, minggu yang lalu dia sukses memindahkan sepiring sate dosen ke tangannya. Aku berusaha sekuat tenaga menyibak kekuatan yang dimilikinya. Sobatku itu seorang yang sederhana, tidak kaya, tidak cantik, tidak terlalu berprestasi. Hanya satu kelebihannya yang tidak dimiliki orang lain. Ya.. aku mulai menyadari. Kelebihan itu juga tidak ada padaku.

Dia sangat hobby menyapa orang lain yang berlanjut dengan obrolan. Anehnya, dia tidak pernah kehabisan bahan. Dari terminal sampai kampus, sang kenek seakan mendapat tambahan semangat ketika dia ajak ngobrol. Begitu juga wajah pedagang tebu ketika dia bertanya tentang keadaan isteri dan anak-anaknya. Aha ! aku juga baru tahu kenapa si ibu rela memberikan tahu cuma-cuma untuknya.

Karena sifatnya yang ramah, dia tidak saja punya teman sesama fakultas, tapi juga dari fakultas lainnya. Merekalah yang “dipaksa”nya untuk membeli dagangan si ibu.

Masih dengan rasa penasaran, kucoba bertanya kepada kenek bis yang selalu memberi gratisan kepadanya “ga rugi tuh ?”. Sungguh terperanjat aku mendengar jawaban knek itu “Wah, ga sebanding mba dengan jajan yang selalu diberinya untukku”.

Aku tidak mencoba bertanya lebih jauh kepada pedagang air tebu, karena aku sudah menemukan jawabannya. Seperti kata seorang guru “Orang mendapatkan bukan dari apa yang dimintanya tapi dari apa yang diberikannya.” Yah, sobatku melakukannya dengan tulus dan suka cita. Keramahtamahan dan kemuliaan budinya langsung dibalas Allah lewat kasih sayang hamba-hamba-Nya yang lain. Semuanya berawal dari sebuah sapaan.

Anas Wong


Sumber : http://www.kisahinspiratif.com

Readmore »» Berawal dari sebuah sapaan, ingat kan? senyum,salam, sapa

berminat ganti domain co.cc ...silahkan cek disini..!